PLN Akan Hapus Golongan Listrik 4.400 VA ke Bawah

PLN Akan Hapus Golongan Listrik 4.400 VA ke Bawah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan menghapus beberapa besar kelas kelompok pelanggan listrik Tempat tinggal Tangga (RT) untuk penerima nonsubsidi. Nanti, pelanggan nonsubsidi cuma juga akan terdiri pada dua kelas kelompok, yaitu 4.400 VA serta 13.200 VA.

Jonan menerangkan, PLN membagi kelompok pelanggan listrik RT dalam tiga kelas, yaitu kelompok Tempat tinggal Tangga (R-1) 900 VA-RTM, 1. 300 VA, serta 2. 200 VA. Nanti, tiga kelas ini juga akan dihapus karna rentang keduanya termasuk dekat.

“PLN sendiri setuju merubah kelas kelompok berlangganan rumah tangga dari 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, 2.200 VA juga akan dihapus terkecuali yang terima subsidi, yang beda mungkin saja sekalian 4.400 VA, 13.200 VA.” tutur Jonan.

Jonan menambahkan, hal semacam ini dikerjakan dengan maksud pengaturan tarif listrik. Ia mengatakan, pihaknya akan selalu memotong tarif listrik dengan bertahap lewat efisiensi.

Menurut Jonan, pemerintah sendiri memanglah mempunyai tiga konsentrasi besar, yaitu kemampuan listrik, rasio elektifikasi atau pemerataan service listrik, serta tarif listrik. Subsidi listrik sendiri, kata Jonan, naik tahun depan jadi Rp93 triliun-Rp95 triliun dari tahun ini Rp90 triliun.

“Tapi uangnya dipakai untuk pembangunan infrastruktur, hingga pemerataan pembangunan lebih terasa.” tutur dia.

Sampai sekarang ini, rasio elektrifikasi terdaftar sebesar 93 % dari tujuan 92, 75 %. Pemerintah membidik rasio elektrifikasi hingga 2019 menjangkau 97 %.

“Presiden Joko Widodo (Jokowi) inginkan bila dapat 100 %, kami berjuang,” papar Jonan.

Baca juga:  Pertamina Menyelesaikan Unit Panas Bumi di Lampung Senilai US$397 juta

Sekarang ini, menurutnya, rasio elektrifikasi di Papua serta Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tetap minus. Apabila diakumulasi, paling tidak masih tetap ada 2.500 desa yg tidak memperoleh aliran listrik.

“Pemerintah memakai dana biaya menerangi 2.500 desa dengan lampu tenaga surya irit daya,” ujarnya.

Mengenai PLN sekarang ini, terdaftar membanderol cost penggunaan listrik tegangan rendah (TR) dengan batas daya 900 VA sebesar Rp1. 352 per Kilowatt-hour (kWh). Sedang tarif listrik dengan batas daya 1. 300 VA ke atas dibanderol sebesar Rp 1.467,28 per Kwh.

Tarif Listrik, Trik Jonan dan Upaya Selamatkan PLN.
PLN beralasan, penyeragaman tarif lebih gampang dikerjakan karna kemampuan listrik di semasing rumah tangga berlainan hingga penyeragaman kelompok susah dikerjakan.

Lepas dari pilihan apa yang juga akan diambil, satu hal yang tentu yaitu tarif listrik kelompok 900 VA untuk pelanggan nonsubsidi juga akan alami kenaikan. Pasalnya, sekarang ini, cuma ada dua tarif listrik untuk pelanggan nonsubsidi, yaitu Rp1. 352 per Kilowatt-hour (kWh) untuk pelanggan RT kelompok 900 VA serta Rp1. 467, 28 per Kwh untuk pelanggan dengan batas daya 1. 300 VA.

Ekonom Institute for Economic Development (INDEF) Bima Yudistira menilainya penyeragaman kelompok maupun tarif hanya dalih pemerintah untuk menambah tarif listrik untuk pelanggan 900 VA nonsubsidi.

“Ini saya saksikan sesungguhnya kedok pemerintah untuk menaikan tarif listrik,” tutur Bima.

Pemerintah terlebih dulu merencanakan menambah tarif listrik untuk pelanggan PLN nonsubsidi pada pertengahan tahun ini. Tetapi, lihat keadaan ekonomi serta tanggapan orang-orang, pemerintah lalu membatalkan gagasan itu serta meyakinkan tidak juga akan ada kenaikan tarif sampai akhir tahun ini.

Baca juga:  Keuntung-rugian Trik Sri Mulyani dan Jonan Menyelamatkan PLN

Keadaan ini lalu punya pengaruh pada kemampuan PLN. Sampai kuartal III, laba PLN anjlok 72 % dibanding periode yang sama tahun lantas jadi Rp3, 06 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan juga pernah kuatir dengan kekuatan PLN dalam membayar utang sampai menyurati Jonan serta Menteri BUMN Rini Soemarno.

” Jadi PLN memanglah ada dalam sebuat dilema, ditekan pemerintah untuk selalu membuat infrastruktur, tapi dananya makin terbatas (dengan tidak menambah tarif listrik) serta utangnya juga membengkak. Pada akhirnya orang-orang ujungnya yang juga akan dikorbankan dengan beragam alibi untuk menaikan tarif listrik, ” jelas dia.

Bima juga menilainya kebijakan penyesuaian tarif itu kurang pas dikerjakan sekarang ini karna bisa memukul daya beli kelas menengah. Pasalnya, penyesuaian tarif meski cuma dikerjakan pada kelompok 900 VA bisa mengerek inflasi.

Efek penyesuaian tarif listrik pada inflasi sendiri telah tampak pada awal tahun ini. Pemerintah lakukan penyesuaian tarif listrik pada 13 golongam termasuk juga pada 18, 9 juta rumah tangga kelompok 900 VA. Kenaikan tarif ini lalu pernah beresiko pada inflasi.

Bersamaan gagasan pemerintah berkaitan kelompok listrik itu, inflasi tahun depan yang ditargetkan di kisaran 3, 5 %, peluang juga akan ada di atas 4 % sampai 4, 5 % bila kebijakan integrasi tarif listrik itu benar dikerjakan.

” Imbasnya kelak pendapatan orang-orang semakin tergerus untuk bayar listrik. Ritel semakin sepi serta ekonomi saya cemaskan.kuatirkan tumbuh dibawah 5 % serta mengkonsumsi dibawah 4 %, ” terang Bima.

Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin mengatakan, kenaikan cost listrik jadi satu diantara komponen yang menyebabkan pelemahan daya beli pada orang-orang grup menengah ke bawah. Mengakibatkan, mengkonsumsi orang-orang itu pada beberapa barang mengkonsumsi paket ataupun ritel yang lain.

Baca juga:  Tesla Mencapai $400 Per Lembar Saham

“Tiga pengeluara orang-orang yang alami kenaikan penting di tahun ini, ada pendidikan, listrik, serta leisure,” jelas dia.

Mengakibatkan, industri barang mengkonsumsi paket (Fast Moving Consumer Good/FMCG) selama tahun ini (year to date), menurut Survey Nielsen cuma tumbuh 2, 7 %. Walau sebenarnya rata-rata perkembangan industri itu menjangkau 11 % dalam lima tahun paling akhir.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Instansi Customer Indonesia (YLKI) Tulus Kekal mengakui belum juga memahami seutuhnya berkaitan gagasan pemerintah untuk menyederhanakan tarif listrik. Tetapi, Ia mengharapkan penyederhanaan tarif ini tidak jadi instrumen terselubung untuk pemerintah untuk menambah tarif listik.

“Semestinya penyederhanaan tarif ini beresiko pada tarif yang lebih efektif. Bukanlah demikian sebaliknya, penyederhanaan tarif ini jadi jadi kedok untuk menambah tarif listrik dengan terselubung,” jelas dia.

Related posts

Leave a Comment