Garuda Membutuhkan Satu Tahun Untuk Mencapai Stabilitas Keuangan

Garuda Membutuhkan Satu Tahun Untuk Mencapai Stabilitas Keuangan

BUMN operator PT Garuda Indonesia membutuhkan satu tahun untuk menstabilkan situasi keuangan setelah menderita kerugian Rp 1,31 triliun (US$ 98.55 juta) pada kuartal pertama 2017, dikutip dari Direktur Utama Garuda, Pahala N. Mansury.

Likuiditas, neraca pembayaran dan indikator lainnya tetap positif sampai akhir tahun ini. Kami berharap untuk mencapai stabilitas pada akhir tahun depan. Periode pemulihan bisa memakan waktu sembilan sampai 12 bulan.” kata Pahala di Jakarta, minggu kemarin seperti dikutip Kompas.com.

Kerugian Garuda Indonesia terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada aviation turbine fuel (avtur) sebagai pengeluaran untuk bahan bakar tahun lalu naik sebesar 54% dari $189.8 juta menjadi $292.3 juta.

Selain kenaikan harga avtur, di antara faktor-faktor lain adalah peningkatan biaya operasional dari $840.1 juta menjadi $1,1 miliar. 6,2% peningkatan dalam pendapatan perusahaan dari $856 juta menjadi $909.5 juta tidak bisa mengimbangi peningkatan biaya.

Dalam mencoba meningkatkan efisiensi, operator saat ini sedang mengkaji 10 sampai 20 rute domestik, kata Pahala, menambahkan bahwa Garuda mencoba untuk meningkatkan kondisi finansial di tengah desas-desus tentang masalah-masalah mendasar.

Kerugian pada kuartal pertama 2017 adalah kesempatan untuk meningkatkan kinerja kami,” kata Pahala, sementara menyangkal bahwa perusahaannya sedang dalam kesulitan.

Baca juga:  Batavia Air Bankrupt, Discontinued Operations At 00:00 PM

Related posts

Leave a Comment