ExxonMobil Keluar dari East Natuna

Exxon Hengkang dari East Natuna

ExxonMobil keluar dari Blok East Natuna. Dengan hal tersebut, pengelolaan blok yang mempunyai kandungan migas empat kali lipat dari blok Mahakam itu bisa dikelola seutuhnya oleh Pertamina sebagai perusahaan BUMN.

Kurtubi, anggota Komisi VII DPR yang mengepalai bidang daya menyebutkan, tidak mempersoalkan hengkangnya ExxonMobil dari East Natuna. Sebab, Pertamina dapat mencari mitra beda yang dapat di ajak hubungan kerja dalam mengelola blok itu.

Bila Exxon tidak ingin, ya tidak jadi masalah, kan Pertamina dapat mencari mitra beda. Tehnologi pembelahan CO2 ini saat ini telah dimana-mana, banyak yang dapat. Jadi tidaklah perlu tergantung pada Exxon,” tuturnya.

Menurutnya, kerja sama di East Natuna itu cuma hanya pembelahan Co2 dari Metan. Serta apakah nanti juga akan jadikan berbentuk LPG serta dialirkan lewat pipa gas, itu kelak bergantung dari perjanjian dengan Pertamina.

Hal seirama disibakkan pakar daya dari Kampus Gajah Mada (UGM) Fahmi Radhi. Menurut dia, dengan keluarnya Exxon dari East Natuna, jadi Pertamina dapat mencari mitra baru dengan memakai skema business to business (b to b).

Hal itu juga akan untungkan Pertamina sebagai pemegang konsesi blok itu. “Pertamina jadi lebih leluasa dalam mengelola blok itu serta bisa memastikan siapa yang dapat di ajak kerja sama,” tuturnya.

Cuma saja, lanjut Fahmi, hengkangnya Exxon jadi preseden jelek dalam pengelolaan blok migas di Indonesia. Terlebih sepanjang beberapa puluhtahun. blok itu tidak tersentuh karena begitu tergantung pada Exxon.

Langkah Exxon yang membiarkan pengembangan blok East Natuna tidak terurus begitu merugikan pemerintah Indonesia. Karenanya, atas sikap wan prestasi Exxon, pemerintah bisa memajukan tuntutan.

Walau baru potensi kerugian, tetapi itu mungkin saja preseden jelek untuk pengelolaan migas yang lain. Namun itu semuanya bergantung Pemerintah, apakah juga akan lakukan tuntutan atau tidak,” kata Fahmi.

Terlebih dulu, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyebutkan, pengembalian Blok East Natuna begitu positif untuk Indonesia. Terkecuali dikuasai kembali oleh Pertamina, pengelolaan blok ini tidak bergantung kepada pihak beda.

Mulai sejak th. 1970-an s/d 2016, pengembangan blok East Natuna tidak mempunyai kejelasan. Berarti, sepanjang beberapa puluhtahun. itu tak ada pengembangan,” tuturnya Jumat Minggu kemarin.

Arcandra mengungkap, dalam satu saat kontraktor East Natuna memperoleh 100 % hasil migas serta pemerintah cuma memperoleh pajak.

Bahkan juga, dalam negosiasi yang dikerjakan th. lantas, kontraktor bersikeras memperoleh 100 % migas serta pemerintah memperoleh pajak 40 %.

Ketika itu ada tiga kontraktor yang juga akan meningkatkan Blok East Natuna yakni PT Pertamina (Persero) serta ExxonMobil dengan penguasaan saham sebesar 42,5%. Sesaat 15% bekasnya dipunyai PTT EP, perusahaan migas asal Thailand.

Tetapi, hingga negosiasi paling akhir tidak berlangsung titik temu, sampai pada akhirnya Exxon pilih kembalikan kepemilikan East Natuna pada Pertamina.

Sekarang tak ada sekali lagi dispute blok ini punya siapa. Ini lompatan besar dalam pengelolaan East Natuna,” tuturnya.

Related posts

Leave a Comment